Agribisnis Tahu dan Peluang Ekonomi Rakyat di Kota Sorong
Agribisnis Tahu dan Peluang Ekonomi Rakyat di Kota Sorong
Oleh: Hana Herlin Febriana Thesia (Mahasiswa Universitas Nani Bili Nusantara Sorong)
Kota Sorong dikenal sebagai pintu gerbang Papua Barat Daya sekaligus pusat aktivitas ekonomi dan distribusi pangan di kawasan timur Indonesia. Pertumbuhan penduduk dan geliat perdagangan yang terus meningkat menjadikan Sorong sebagai wilayah dengan kebutuhan pangan yang besar. Di tengah kondisi tersebut, agribisnis tahu menjadi salah satu sektor usaha rakyat yang patut mendapat perhatian lebih. Tahu merupakan pangan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Sorong. Produk ini mudah dijangkau, terjangkau secara harga, dan menjadi sumber protein nabati bagi berbagai lapisan masyarakat. Di balik itu, sebagian besar produksi tahu di Kota Sorong masih dijalankan oleh industri rumah tangga berskala kecil dan menengah. Usaha-usaha ini tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Namun, pengembangan agribisnis tahu di Sorong masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketergantungan pada bahan baku kedelai dari luar daerah menyebabkan biaya produksi relatif tinggi dan rentan terhadap fluktuasi harga. Selain itu, keterbatasan modal, teknologi produksi, serta manajemen usaha masih menjadi kendala bagi sebagian pengrajin tahu untuk berkembang lebih jauh. Di sisi lain, peluang agribisnis tahu di Kota Sorong sangat terbuka. Letak geografis Sorong yang strategis sebagai pusat distribusi memungkinkan produk tahu dipasarkan ke wilayah sekitar seperti Kabupaten Sorong, Sorong Selatan, Raja Ampat, dan Maybrat. Didukung oleh dominasi penduduk usia produktif, agribisnis tahu memiliki potensi untuk tumbuh sebagai usaha yang berkelanjutan jika dikelola dengan baik.
Sebagai mahasiswa, memandang bahwa penguatan agribisnis tahu perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah. Inovasi produk seperti tahu goreng siap santap, tahu isi, hingga tahu kemasan higienis dapat meningkatkan daya saing produk lokal. Selain itu, pemanfaatan limbah ampas tahu sebagai pakan ternak atau pupuk organik juga dapat menjadi solusi atas persoalan lingkungan sekaligus menambah nilai ekonomi. Peran pemerintah daerah sangat penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku agribisnis tahu. Program pelatihan kewirausahaan, pendampingan teknologi produksi, serta kemudahan akses permodalan bagi UMKM perlu terus diperkuat. Tidak kalah penting, edukasi mengenai standar kebersihan dan keamanan pangan harus menjadi perhatian agar produk tahu lokal mampu bersaing dan dipercaya konsumen.
Media massa wilayah memiliki peran strategis sebagai ruang edukasi publik. Melalui pemberitaan dan opini yang konstruktif, media dapat mengangkat potensi agribisnis tahu sekaligus menyuarakan aspirasi pelaku usaha kecil. Bagi mahasiswa, media massa juga menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan dan kontribusi pemikiran terhadap pembangunan daerah. Ke depan, agribisnis tahu di Kota Sorong tidak hanya soal produksi pangan, tetapi juga tentang pemberdayaan ekonomi rakyat dan kemandirian daerah. Dengan kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan media, agribisnis tahu berpeluang menjadi salah satu pilar ekonomi kerakyatan di Papua Barat Daya.