• Beranda
  • Artikel
  • Coping Stress pada Mahasiswa Rantau Ditinjau dari Big Five Personality
Coping Stress pada Mahasiswa Rantau Ditinjau dari Big Five Personality

Coping Stress pada Mahasiswa Rantau Ditinjau dari Big Five Personality

Coping Stress pada Mahasiswa Rantau Ditinjau dari Big Five Personality

Sonia Yuliers Pia

(Pogram Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong)

Mahasiswa merupakan status bagi individu yang menjalani studi di jenjang perguruan tingggi. Umumnya mahasiswa di dominasi oleh individu dewasa awal. Masa dewasa awal  merupakan masa penyesuaian diri terhadap pola dan harapan kehidupan baru dimana individu perlu melakukan penyesuaian diri dengan banyak hal baru yang akan atau sedang terjadi (Hurlock, 1996).

Pada periode panjang ini individu akan mencoba berbagai hal baru seperti merantau jauh dari orangtua. Individu akan mulai memilih dan mengatur hidupnya sedemikian mungkin agar semuanya sesuai dengan harapannya. Garis besar yang terjadi pada saat proses pencarian ini individu  tidak jarang menemui konflik (Lestari, 2021). Tekanan dari konflik atau permasalahan tersebut membuat individu berusaha menyesuaikan ataupun menyelesaikan masalah yang ada.

Berbagai macam masalah atau tekanan yang timbul dalam hidup manusia pun dapat menimbulkan stress. Efek yang di timbulkan oleh  stress mengakibatkan individu menjadi lebih rentan terhadap infeksi, gangguan pernapasan, jantung dan menimbulkan menimbulkan distres serta menyebabkan insomnia (Khosla, 2006). Salah satu dampak dari stres yaitu terjadinya bunuh diri. Bunuh diri merupakan penyebab utama kedua kematian di kalangan anak muda (Mukaromah, 2020). Pramana, Wayan, dan Puspitadewi (2014) mengatakan bahwa beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi ide bunuh diri yaitu : tingkat depresi yang tinggi, memiliki kecerdasan emosi yang rendah, tipe kepribadian, rendahnya dukungan sosial yang diberikan dan kesejahteraan psikologi.

Dapat diketahui bahwa individu melakukan berbagai cara atau usaha yang dapat mengurangi berbagai tekanan yang di alaminya. Berbagai usaha yang di lakukan dalam mengatasi tekanan tersebut dikenal dengan istilah coping. Coping adalah usaha untuk menetralisasi atau mengurangi stress yang terjadi (Sarafino, 2002).

Strategi coping bertujuan untuk mengatasi situasi dan tuntutan yang dirasa menekan, menantang, membebani dan melebihi sumberdaya (resources) yang dimiliki. Sumberdaya coping yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi strategi coping yang akan dilakukan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan (Maryam, 2017).

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi coping stress diantaranya: dukungan sosial yang diterima sebagai faktor eksternal, dan faktor internal atau faktor yang berhubungan dengan kepribadian seseorang yaitu, ketahanan psikologis, optimism, dan harapan akan kemampuan individu dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Strategi coping  yang paling efektif adalah strategi yang sesuai dengan jenis stress dan situasi (Mashudi, 2014)).

Berkaitan dengan coping karakteristik kepribadian membawa setiap orang pada peristiwa stress yang mempengaruhi bagaimana individu mengatasi sebuah peristiwa. Dalam keadaan tertekan individu akan menyelesaikan masalah sesuai dengan karakteristik kepribadiannya. Oleh karena itu, kepribadian mempengaruhi seseorang dalam melakukan strategi coping (Taylor, 2014). Suatu peristiwa yang disebabkan karena adanya penyebab dari luar diri yang mempengaruhi perilaku.

Dengan demikian dalam memahami kepribadian seseorang kita perlu memahami perilakunya. Kepribadian dapat memprediksi apa yang akan seseorang lakukan dalam situasi tertentu dan meliputi semua sifat atau karaktersitik yang relative permanen yang menyebabkan konsintensinya suatu perilaku manusia. Sebagian penjelasan Pervin, Cervone dan John (2010) bahwa kepribadian mempengaruhi pikiran, perasaan, hingga tingkah laku seseorang. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam mengurangi tekanan atau masalah seseorang perlu berkepribadian yang baik agar tekanan atau masalah tersebut dapat terselesaikan (Nasyroh & Wikansari, 2017).

Kepribadian big five digunakan untuk mengidentifikasi kepribadian seseorang kedalam lima dimensi yaitu Extraversion (E), agreeablenees (A), conscientiousness (C), openness (O), neuroticism(N) (Pervin, 2005). Dimensi ini lebih muda disingkat dengan OCEAN. Dari ke-lima dimensi tersebut, individu cenderung memiliki salah satu dimensi kepribadian sebagai salah satu faktor yang dominan.

Hal tersebut yang melatar belakangi peniliti untuk melakukan penelitian terhadap coping stress pada mahasiswa rantau di sorong di tinjau dari big five personality. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh coping stress pada mahasiswa rantau jika ditinjau dari big five personality, sehingga peneliti dapat mengetahui pengaruh coping stress pada mahasiswa rantau jika ditinjau dari big five personality. Maka hasil dari penelitian ini diharapkan agar dapat menjadikan penelitian ini digunakan sebagai acuan dalam pembuatan tugas dibidang psikologi dan juga dapat membantu mahasiswa dalam menangani stress pada saat merantau dengan menyelesaikan masalahnya sesuai dengan karakteristiknya.

Coping stres merupakan usaha dan upaya dalam mengelola situasi yang menekan, cara mengatasi dan mengurangi stress yang dialami individu dengan berbagai model. Cara mengatsinya dengan berupa problem focused coping dan emotional focused coping.

Menurut Lazarus dan Folkman (Sarafino, 2008) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi strategi coping, yaitu

Kesehatan fisik

Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar.

Keterampilan memecahkan masalah

Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.

Keyakinan atau pandangan positi

Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib (eksternal locus of control) yang mengerahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness) yang akan menurunkan kemampuan strategi coping

Keterampilan sosial

Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat.

Dukungan sosial

Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya.

Materi

Dukungan ini meliputi sumber daya berupa uang, barang-barang atau layanan yang biasanya dapat dibeli.

Memurut Lazarus dan Folkman (dalam Prayascitta, 2010) terdapat dua aspek yang mempengaruhi coping stress yang diantaranya :

Problem-focused coping atau coping yang berfokus pada masalah yaitu suatu strategi yang digunakan untuk menangani stres atau coping yang fokus pada sumber masalah, maka individu akan berusaha langsung untuk mencari sumber masalah, menghadapi sumber masalah, mengubah lingkungan yang menyebabkan terjadinya masalah dan berusaha menyelesaikan masalah sehingga pada akhirnya stres berkurang atau hilang. Emotion-focused coping atau coping yang berfokus pada emosi yaitu suatu strategi yang digunakan untuk menangani stres yang mana individu memberi respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, yang digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stres, dengan melalui perilaku individu untuk meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan. Bila individu tidak mampu mengubah kondisi yang menekan individu akan cenderung untuk mengatur emosinya dalam rangka penyesuaian diri terhadap dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Individu akan cenderung menggunakan strategi ini jika dia merasa tidak bisa dan sulit untuk mengontrol masalah yang ada.

Terdapat indikator-indikator dari aspek coping stress menurut Lazarus dan Folkman (dalam Indirawati, 2006) diantaranya yaitu, indikator dari problem focused coping terbagi atas: a. Konfrontasi (Confrontative) Individu menggunakan usaha yang agresif untuk mengubah suatu keadaan yang menekan, dengan tingkat kemarahan yang cukup tinggi, dan pengambilan risiko. b. Pencarian Dukungan Sosial (Seeking Social Support) individu berusaha untuk memperoleh dukungan dari orang lain berupa informasi, nasehat, dan bantuan yang diharapkan dapat membantu unruk memecahkan masalahnya. c. Perencanaan Penyelesaian Masalah (Planful Problem Solving) Individu melakukan usaha yaitu menganalisa situasi untuk memperoleh solusi, kemudian mengambil tindakan langsung untuk dapat menyelesaikan masalah.

Indikator dari emotion focused coping menurut Lazarus dan Folkman (dalam, Indirawati, 2006) yaitu: a. Kontrol Diri (Self Control), Individu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tindakan atau perasaan terkait pada suatu masalah. b. Menjauh (Distancing), Individu berusaha untuk tidak terlibat dalam sebuah permasalahan, seakan tidak terjadi apa-apa, atau menciptakan pandangan yang positif seperti menganggap masalah sebagai lelucon. b. Penilaian Kembali Secara Positif (Positive Reappraisal), Individu berusaha untuk menganggap positif dari masalah yang dihadapi dengan fokus terhadap pengembangan diri, juga biasanya melibatkan hal-hal yang bersifat religius. d. Penerimaan Tanggung Jawab (Accepting Responsibility), Individu berusaha untuk tanggung jawab pada diri sendiri dalam permasalahan yang dihadapi serta mencoba menerima agar semua menjadi lebih baik. e. Melarikan Diri atau Menghindar (Escape atau Avoidance), Individu berusaha untuk mengatasi situasi yang menekan dengan menghindar atau lari dari situasi tersebut dengan mengalihkan pada hal lain seperti makan, minum, merokok, atau  menggunakan obat-obatan.

Big Five Personality

Big five personality adalah kepribadian individual yang tersusun dalam lima buah domain kepribadian yang telah dibentuk dengan menggunakan analisis faktor. Lima dimensi pada The Big Five Personality memiliki hubungan langsung dengan faktor keturunan biologis.Dasar biologis dari kelima faktor ini sangat kuat.Faktor biologis atau alam yang menentukan kepribadian dan pengalaman sosial hanya memiliki sedikit pengaruh (McCrae & Costa dalam Cervone dan Pervin, 2012).

Menurut Friedman dan Schustack (2008), faktor lima besar (bigfive-factor) yang ada didalam tipe kepribadian ini adalah :

  1. Extraversion (sering disebut juga surgency), dimensi ini menggambarkan individu yang cenderung senang bergaul, tegas, dan banyak berbicara, penuh semangat, antusias. Orang yang berlawanan dengan tipe kepribadian ini akan cenderung pemalu, tidak percaya diri dan pendiam.
  2. Agreeablenes, dimensi ini menggambrakan individu yang cenderung kooperatif, ramah, mudah bekerja sama, baik hati dan mudah percaya. Kebalikan dari dimensi ini akan cenderung bersifat dingin, konfrontatif, dan kenjam.
  3. Conscientiousness (disebut juga lack of impulsivity), dimensi ini menggambarkan individu yang disiplin, penuh dengan kesungguhan hati, tekun, dan bertanggung jawab serta berhati-hati dalam bertindak. Kebalikan dari dimensi ini akan cenderung bersifat ceroboh, berantakan, dan tidak bisa diandalkan.
  4. Neuroticism, dimensi ini menggambarkan individu yang memiliki kecenderungan gugup, sensitif, tegang, dan mudah cemas. Kebalikan dari dimensi ini akan cenderung bersifat tenang dan santai.
  5. Opennes to Experience (disebut juga culture atau intellect), dimensi ini menggambarkan individu yang imajinatif, peka, intelektual, artistik, dan terbuka pada hal-hal baru. Kebalikan dari dimensi ini akan cenderung bersifat sederhana, membosankan, dan dangkal.

Adapun dimensi dari big five personality tersebut terdiri dari :

  1. Kepribadian aggreablenes yang ditandai dengan adanya sikap toleran, percaya, dan berhati lunak.
  2. Indikator kepribadian conscientiousness yaitu dapat diandalkan, terorganisir, menyeluruh, bertanggung jawab, tekun, bekerja keras, dan senang mencapai dan menyelesaikan berbagai hal.
  3. Indikator extraversion yang ditamdai dengan tingkat kenyamanan seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain.
  4. Indikator intellect memiliki minat yang luas dan bersedia mengambil resiko, rasa ingin tahunya, pemikiran yang terbuka, kreatif, imajinasi, dan intelegensi.
  5. Dan indikator neuroticism yaitu mengalami keadaan emosi yang positif seperti merasa aman secara psikologis, tenang dan juga santai. 

Hubungan antara Coping Stres dan Big Five Personality

Banyak hal mempengaruhi coping stress, salah satunya adalah big five personality (karakter kepribadian). Berbagai macam masalah atau tekanan yang timbul dalam hidup manusia pun dapat menimbulkan stress. Efek yang di timbulkan oleh  stress mengakibatkan individu menjadi lebih rentan terhadap infeksi, gangguan pernapasan, jantung dan menimbulkan menimbulkan distres serta menyebabkan insomnia (Khosla, 2006). Salah satu dampak dari stres yaitu terjadinya bunuh diri. Bunuh diri merupakan penyebab utama kedua kematian di kalangan anak muda (Mukaromah, 2020).

Pramana, Wayan, dan Puspitadewi (2014) mengatakan bahwa beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi ide bunuh diri yaitu : tingkat depresi yang tinggi, memiliki kecerdasan emosi yang rendah, tipe kepribadian, rendahnya dukungan sosial yang diberikan dan kesejahteraan psikologi. Maka dari itu perlu dilakukannya coping stress guna menanggulangi dari stress akibat situasi dan tuntutan yang dirasa menekan, menantang, membebani dan melebihi sumberdaya (resources) yang dimiliki oleh individu.

Berkaitan dengan coping karakteristik kepribadian membawa setiap orang pada peristiwa stress yang mempengaruhi bagaimana individu mengatasi sebuah peristiwa. Dalam keadaan tertekan individu akan menyelesaikan masalah sesuai dengan karakteristik kepribadiannya. Oleh karena itu, kepribadian mempengaruhi seseorang dalam melakukan strategi coping (Taylor, 2014). Dengan demikian dalam memahami kepribadian seseorang kita perlu memahami perilakunya. Kepribadian dapat memprediksi apa yang akan seseorang lakukan dalam situasi tertentu dan meliputi semua sifat atau karaktersitik yang relative permanen yang menyebabkan konsintensinya suatu perilaku manusia.

Hasil skor tertinggi dari tiap-tiap treat kepribadain big five tersebut menunjukkan kecenderungan kepribadian responden tersebut. Penelitian meta-analysis yang dilakukan oleh Connor-Smith & Flachsbart (2007) menunjukkan bahwa dari lima kepribadian Big Five Personality memiliki pola strategi coping yang khas. Big Five Personality atau Five Factors Model merupakan suatu pendekatan konsisten untuk melihat dan menilai kepribadian dalam diri seseorang melalui analisis faktor kata sifat, dimana kelima faktor tersebut diantaranya adalah extroversion, agreeableness, openness to experience, neuriticism, dan conscientiousness (Nasyroh & Wikansari, 2017).