POTENSI BUAH MERAH DI BINTUNI

POTENSI BUAH MERAH DI BINTUNI

Fitri Nur Kasilho

(Mahasiswa Prodi Agribisnis FST UNIMUDA Sorong)

Buah merah (Pandanus Conoideus Lamk) merupakan salah satu jenis tumbuhan tropik yang dikenal memiliki banyak khasiat bagi kesehatan manusia. Di daerah Papua, Buah Merah merupakan salah satu potensi unggulan yang secara tradisional telah dimanfaatkan oleh masyarakat baik yang bermukim di daerah pantai maupun di pegunungan sebagai bahan sumber lemak nabati (Minyak Korotenoid). Minyak tersebut juga digunakan sebagai salah satu bahan penyedap campuran makanan pokok misalnya sagu dan ubi jalar. Kandungan minyak dari buah merah cukup tinggi yaitu sekitar 35,9% per berat kering buah. Sedangkan kandungan asam lemaknya sama dengan komposisi asam lemak dari sebagian besar minyak goreng. Dengan demikian buah merah mempunyai prospek untuk dikembangkan sebagai sumber bahan minyak nabati, selain kelapa dan kelapa sawit, Jermia Limbongan dan Afrizal Malik (2009).

Berdasarkan hasil survei lapangan koresponden yang di wawancarai mengatakan bahwa, Kondisi buah merah yang terbilang cukup dan selalu tersedia di setiap musim panen terbuang begitu saja, dikarenakan tidak ada pemesanan minyak buah merah, sehingga petani hanya memanen secukupnya untuk di konsumsi sendiri.

Buah merah memiliki peluang pengembangan yang cukup baik, dikarenakan harganya yang mahal, ketersediaan lahan yang luas, serta budidaya dan cara pengolahan yang sederhana. Beberapa pengusaha di tingkat lokal maupun nasional pun telah melirik komoditas ini sebagai bahan baku industri makanan dan obat-obatan, Limbongan dan Malik (2009)

Luas areal produksi tanaman buah merah di Teluk Bintuni pada tahun 2020 memiliki luas sebesar 434 Ha, dengan jumlah tanaman belum menghasilkan 54 Ha, Tanaman menghasilkan sebanyak 308 Ha. Dengan jumlah produksi sebanyak 41,80 Ton/Ha, dan memiliki produktivitas buah merah sebanyak 110 Kg/Ha.

Pembangunan sistem Agribisnis sebagai suatu penggerak utama dalam pembangunan ekonomi nasional (Agribisnis Led Development), maka persoalan–persoalan ekonomi di Indonesia saat ini seperti pertumbuhan ekonomi, perluasan kesempatan kerja, peningkatan devisa negara, pemerataan kesejahteraan dan percepatan pembangunan ekonomi daerah yang dapat membangun ketahanan pangan serta pelestarian lingkungan hidup, seharusnya dapat dipecahkan, dilakukan dengan baik serta dilakukan secara berkelanjutan (Been Kogoya, 2009).

Teluk Bintuni merupakan tempat yang memiliki potensi Buah merah yang sanggat banyak dengan potensi luas lahan yang tersedia sebesar 434 Ha. Penduduk dengan basis ekonomi rumah tangga dan pertanian. Ada beberapa faktor keterbelakangan pertanian tersebut seperti keterbatasan infrastruktur penunjang pertanian (transportasi maupun irigasi), belum berkembangnya kelembagaan pertanian, keterbatasan jumlah maupun tingkat keterampilan sumber daya manusia pertanian, rendah minat pengusaha, terbatasnya toko pertanian, belum berkembangnya teknologi pasca panen dan agroindustri dan rendahnya akses petani terhadap pasar.

Minyak buah merah yang diproduksi dari para petani di Bintuni pada umumnya di konsumsi sendiri dan di sebagian di pasarkan kebeberapa kota seperti Jakarta, Jayapura, Sorong, & Surabaya. Namun sebagai petani untuk mendapatkan distribusi produk pasar sangat sulit sehingga keadaan petani dari jaman baru sampai era teknologi dan informasi seperti saaat ini belum dapat menggubah peningkatan kesejahteraan petani setempat.

Berdasarkan uraian di atas maka Teluk Bintuni sebagai salah satu sentra produksi buah merah di Papua Barat dan memiliki potensi untuk mengembangkan tanaman buah merah cukup besar.