Kenakalan Remaja Ditinjau Dari Persepsi Remaja Terhadap Keharmonisan Keluarga
Kenakalan Remaja Ditinjau Dari Persepsi Remaja Terhadap Keharmonisan Keluarga
Oleh:
Syachrowi Tanjung, M.Si.
Masa remaja adalah masa dimana individu mencari jati diri, remaja berusaha mencari jawaban tentang siapa dia dan apa perannya dalam keluarga dan masyarakat. Hal inilah yang sering menjadikan pertentangan antara orang tua dengan remaja. Kelekatan yang aman dengan orang tua berpengaruh besar bagi remaja untuk memilih teman yang memiliki nilai-nilai yang sama dengan orang tuanya. Jika orang tua tidak berusaha mengerti remaja, remaja tidak akan betah di rumah. Karena keluarga merupakan sumber pendidikan utama, serta segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual manusia diperoleh pertama tama dari orang tua dan anggota keluarganya sendiri. Maka kondisi keluarga perlu dalam kondisi baik dan mendukung terlaksananya pendidikan pengetahuan serta kecerdasan intelektuan bagi anggota keluarga. Atau dengan kata lain keluarga harus dalam kondisi yang harmonis.
Keharmonisan keluarga itu akan terwujud apabila masing- masing unsur dalam keluarga dapat berfungsi dan berperan sebagimana mestinya dan tetap berpegang teguh pada nilai- nilai agama, maka interaksi sosial yang harmonis antar unsur dalam keluarga akan dapat diciptakan. Namun sebaliknya bila masing-masing unsur dalam keluarga tidak dapat menjalankan fungsi dan peran sebagaimana mestinya maka akan muncul permasalahan-permasalahan yang mengganggu kelangsungan pendidikan serta perkembangan bagi anak. Misalnya karena sibuk bekerja orang tua tidak ada lagi kesempatan untuk memperhatikan perkembangan serta permasalahan-permasalahan yang dialami oleh anak. Anak tidak lagi merasakan adanya kasih sayang serta kehangatan dari orang tuanya. Terlebih lagi jika keluarga tersebut memiliki anak usia remaja. Ketika keluarga tidak harmonis, kehilangan fungsinya, dan tidak memiliki tempat yang berarti di dalam keluarga makai katan saling membutuhkan tidak lagi dirasakan. Akhirnya, kesatuan keluarga hanya dianggap sekedar formalitas.
Hal ini berdampak pada pencarian identitas diri yang tidak terlaksana dengan baik pada remaja yang berada dalam keluarga tersebut. Sehingga remaja akan berupaya mencari penjelasan tentang siapa dirinya serta apa perannya dalam masyarakat melalui lingkungan sosialnya dengan berkelompok. Kelompok awal bagi seseorang pada fase remaja dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial adalah kelompok teman sebaya. Ia mulai belajar bergaul dan berinteraksi dengan orang lain yang bukan anggota keluarganya. Teman sebaya terdiri atas beberapa orang anak yang usianya hampir sama atau sepantaran. Salah satu alasan seorang remaja tergabung dalam suatu kelompok teman sebaya adalah untuk menemukan jati dirinya. Dalam usaha pencarian identitas diri ini remaja melakukan berbagai upaya agar dapat diterima di kelompok teman sebayanya.
Dalam upaya tersebut, kemungkinan perilaku negatif muncul seperti berperilaku nakal. Salah satu faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja adalah konsep diri. Remaja yang gagal dalam mengembangkan konsep diri yang cukup dalam hal tingkah laku berarti gagal dalam mempelajari perilaku yang dapat diterima dan perilaku yang tidak dapat diterima oleh masyarakat. Kenakalan remaja yang dimaksud di sini adalah perilaku yang menyimpang dari atau melanggar hukum.
Kenakalan remaja terbagi menjadi empat jenis yaitu: Pertama, Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain-lain. Kedua, kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain. Ketiga, Kenalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain: pelacuran, penyalagunaan obat, hubungan seks pranikah. Keempat, Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara bolos, mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka. Dimana aturan tersebut dibuat atas dasar kemauan serta kesenangan dari individu dalam kelompok tersebut. Hal inilah yang menjadikan anak terjerumus dalam perilaku nakal. Kenakalan yang dilakukan oleh anak-anak, para remaja dan remaja itu pada umumnya merupakan produk dari konstitusi defektif mental orang tua, anggota keluarga dan lingkungan tetangga dekat, ditambah nafsu primitif dan agresivitas yang tidak terkendali. Semua itu mempengaruhi mental kehidupan perasaan anak-anak muda yang belum matang dan sangat labil (Gunarsa & Gunarsa, 2012). Sikap individualistik dengan mementingkan diri sendiri juga terjadi di keluarga. Mulai dari sikap orang tua terhadap anak dan juga sikap anak terhadap orang tua. Untuk meminimalisir hal tersebut maka perlu dikembalikan lagi pada dukungan dari orang tua.
Ketika remaja yang mendapatkan dukungan dari orang tua, maka perilaku nakal atau menyimpang bisa dikurangi, hal ini bisa saja dikarenakan hubungan dekat dengan orang tua yang harmonis mampu mengimbangi hubungan remaja dengan teman sebayanya yang menyimpang. Di sinilah akan terbentuk penyesuaian-penyesuaian diri remaja terhadap aturan kelompoknya.
Peran keluarga yang harmonis sangat penting bagi perilaku remaja, karena dalam keluarga yang harmonis anak dapat bertumbuh mejadi pribadi yang baik dan menghindari hal-hal yang negatif. Karena anak-anak yang berperilaku menyimpang mereka terkadang menilai dari dalam keluarganya. oleh karena itu pendidikan yang diberikan orangtua terhadap anak sangatlah penting dan orangtua bisa mengerti keadaan anaknya dengan menjadi teman cerita mereka agar pandangan mereka kedepannya baik dan mereka akan merasa aman di dalam keluarganya sendiri.