Mengembangkan Brand Melalui Psikologi Warna
Mengembangkan Brand Melalui Psikologi Warna
Oleh: Fuad Ardiansyah
(Dosen Universitas Pendidikan Muhammadiyah UNIMUDA Sorong)
Warna memiliki kesan dan itu harus digunakan dengan bijak. Bagi yang ingin menciptakan sesuatu yang menakjubkan pada sebuah brand maka sangat perlu mengetahui tentang penggunaan psikologi warna.
Warna sangat kuat dan tanpa sadar memberikan pengaruh pada seseorang. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh US National Library of Medicine National Institutes of Health, bahwa warna memberikan dampak pada sikap karena adanya preferensi pribadi, pengalaman, pendidikan, perbedaan budaya, dan konteks lainnya yang cukup kompleks.
Rasa senang, sedih, semangat, marah, takut, cinta dan lain sebagainya dapat timbul ketika melihat warna tertentu. Pengaruh psikologi warna itulah yang kini telah banyak diketahui dan selanjutnya dimanfaatkan. Salah satu pemanfaatan psikologi warna adalah dalam pengembangan brand.
Logo dan nama brand disulap menggunakan warna tertentu untuk menarik perhatian konsumen. Karena bagaimana pun warna adalah hal pertama yang dilihat untuk produk apapun itu. Dan psikologi warna yang bekerja untuk memaksimalkannya.
Desainer yang ditunjuk untuk membuat logo brand kini menggunakan teori psikologi warna untuk mengembangkan keunikan palet warna untuk klien mereka setiap hari. Seperti memilih warna-warna hangat di atas warna-warna yang lebih dingin, atau menyusun serangkaian warna dan nuansa untuk digunakan di media-media promosi.
Perpaduan semacam itu akan menciptakan pewarnaan sempurna yang dirancang untuk membuat desain logo menonjol, menjual logo dan bahkan meningkatkan pengalaman konsumen.
Seperti yang diketahui bahwa setiap warna menunjukkan kesan yang berbeda-beda. Contohnya warna merah yang melambangkan keberanian, hijau kesuburan, putih kebersihan, coklat keakraban dan lain sebagainya.
Oleh karenanya miliki fokus yang jelas tentang bagaimana brand akan ditampilkan kepada konsumen. Tentukan tujuan dan bagaimana brand ingin dikenal oleh target konsumen, sebelum menentukan warna mana yang paling sesuai. Setelah mengetahui tujuan dan brand image yang ingin ditampilkan, kini saatnya memilih warna yang sesuai untuk brand tersebut. Setiap orang pasti memiliki warna favorit, maka mulailah dari warna yang familiar tersebut.
Lakukan corat coret dengan warna yang terlintas di pikiran untuk sekadar mencoba atau bahkan bisa menjadi warna logo yang fix. Frank Robinson yang pertama kali menggambar logo Coca-Cola yang merah cemerlang menyukai kontras merah di atas putih. Dirinya mencoba dan akhirnya warna tersebut menjadi bagian dari merek dagang yang sangat terkenal dan dilindungi.
Memanfaatkan psikologi warna merupakan satu dari upaya untuk mengembangkan brand. Warna dalam brand bertujuan agar konsumen mengingat produk tertentu. Jadi ketika mereka melihat satu warna, maka akan secara otomatis mengingat brand tertentu.
Oleh karena itu, tidak dianjurkan menggunakan terlalu banyak warna yang malah membuat konsumen semakin bingung atau malah tidak tertarik. Sebagai gantinya, gunakan jumlah warna yang lebih minimal.