NARASI PERSEKOLAHAN
NARASI PERSEKOLAHAN
Muhamad Saiful Fahri
(Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika UNIMUDA Sorong)
Aku masih ingat hari pertama ketika memasuki gerbang sekolah menengahku. Pada pagi itu, udara terasa lembap karena hujan semalam masih menyisakan embun di dedaunan. Bangunan sekolah berdiri kokoh dengan cat putih yang mulai memudar, namun tetap terasa hangat dan penuh kenangan. Saat mengenakan seragam baru yang terasa kaku, perasaan gugup bercampur antusiasme memenuhi dadaku aku berjalan perlahan menuju halaman tempat seluruh siswa berkumpul. Di sana, aku melihat berbagai wajah baru ada yang tersenyum ramah, ada pula yang menatap malu-malu sambil memegang erat tas mereka. Suara bel yang nyaring tiba-tiba terdengar, seolah memberi isyarat bahwa perjalanan panjang bernama pendidikan akan segera dimulai.
Di kelas, aku bertemu wali kelasku, seorang guru yang berpenampilan sederhana namun memiliki tatapan penuh wibawa. Beliau memperkenalkan diri dan meminta kami menyebutkan nama serta cita cita. Saat giliranku tiba, aku mengucapkan namaku dengan suara pelan dan berkata bahwa aku bercita cita menjadi guru. Beberapa teman menoleh dan tersenyum. Saat itu, entah mengapa, aku merasa diterima hari hari berikutnya terasa seperti petualangan baru. Aku belajar berbagai mata pelajaran dari matematika yang penuh rumus hingga bahasa Indonesia yang mengajarkanku makna sastra. Tak hanya itu, aku mulai mengenal teman-teman baru yang memiliki kepribadian berbeda beda. Ada yang lucu, pendiam, bahkan tak jarang yang nakal namun tetap menyenangkan. Bersama mereka, aku belajar bukan hanya dari buku, tapi juga tentang kehidupan: bagaimana bekerja sama, menghargai, dan memahami satu sama lain.
Di sela sela pelajaran, ruang kelas menjadi saksi tawa kami, dan lapangan sekolah menjadi tempat kami melepaskan penat. Aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan dari sanalah aku belajar berorganisasi serta bekerja dalam tim. Ada kalanya kami menang dalam kompetisi, ada pula saat kami harus menerima kekalahan. Namun setiap pengalaman, baik manis maupun pahit, selalu memberikan pelajaran berharga waktu terus berlalu. Tanpa kusadari, aku telah menginjak tahun terakhir. Suasana sekolah mulai terasa berbeda. Kelas yang dahulu ramai kini lebih banyak diisi diskusi serius dan belajar kelompok. Semua orang mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir. Terkadang, rasa lelah dan khawatir menyelimuti, namun dukungan dari guru dan teman membuat langkah tetap terasa ringan.
Akhirnya hari kelulusan datang. Di halaman yang sama tempat dulu aku berdiri dengan penuh kegugupan, kini aku berdiri dengan perasaan bangga. Aku melihat teman temanku saling berpelukan sambil tertawa dan menangis. Kami menyadari bahwa perjalanan yang pernah terasa panjang itu kini harus berakhir. Namun, di balik perpisahan, tersimpan harapan bahwa kenangan dan pelajaran dari sekolah akan terus hidup dalam diri kami saat melangkah keluar dari gerbang sekolah untuk terakhir kalinya, aku menatap bangunan itu dengan penuh rasa haru. Di sanalah aku tumbuh, belajar, dan menemukan sebagian dari diriku. Sekolah bukan hanya tempat mencari ilmu, tetapi tempat membentuk karakter dan mengukir kenangan yang takkan pernah pudar.
Setelah langkahku melewati gerbang sekolah pada hari kelulusan itu, aku berhenti sebentar di trotoar. Angin sore mengibaskan ujung togaku, membawa aroma khas halaman sekolah perpaduan tanah, rumput, dan kenangan. Aku menoleh ke belakang sekali lagi, melihat bangunan yang selama tiga tahun menaungiku. Walau banyak yang mungkin melihatnya sebagai sekadar gedung, bagiku itu adalah saksi bisu dari tawa, tangis, harapan, dan perjuangan yang tak akan pernah terulang sama beberapa teman masih berkumpul di halaman, mengabadikan momen perpisahan. Dika, yang kebetulan mendapat izin untuk datang kembali ke kota hanya demi menghadiri kelulusan, berdiri sambil membawa kamera. Ia masih sama senyumnya lebar, suaranya lantang. Saat melihatku, ia segera berlari menghampiri.
Kami menghabiskan beberapa saat untuk saling bercerita. Tentang hidupnya di kota baru, teman teman baru, dan bagaimana ia merindukan kantin sekolah yang sederhana namun penuh cerita. Sementara aku, menceritakan perjuangan ujian, malam malam panjang, serta bagaimana rasanya duduk di kelas tanpa sosoknya di bangku sebelah tak lama kemudian, Rina dan Bayu ikut bergabung. Rina menenteng sekotak kue buatan ibunya, yang khusus dibawa hari itu sebagai hadiah kecil untuk teman temannya.
Kami makan kue itu di bawah pohon bougenville tempat yang dulu kulihat dari jendela kelas X B. Rasanya manis, bukan hanya karena gula, tapi karena kami memakannya bersama, untuk terakhir kalinya sebagai satu kelompok kecil yang dulu setiap hari duduk di bangku yang sama, saat matahari perlahan tenggelam, kami saling berpamitan, keesokan harinya, sekolah terasa berbeda. Tanpa toga, tanpa teman teman, tanpa suara riuh. Aku kembali ke sekolah hanya untuk mengurus berkas. Koridor yang dulu ramai kini lengang. Langkahku menggema di lantai yang mengkilap. Aku melewati kelas X B, melihat bangku-bangku yang tersusun rapi. Di papan tulis masih tertulis sisa tulisan baris terakhir yang belum sempat dihapus: Selamat berjuang, Angkatan 2025. Hatiku mencelos.
Aku menyusuri perpustakaan, tempat favoritku. Lorong-lorong rak penuh buku itu menyimpan catatan waktu yang berlapis. Aku mengingat bagaimana dulu aku sering berdiam di antara rak, mencari buku-buku untuk tugas jurnalistik. Kududuk di meja kayu yang masih tampak kokoh beberapa hari kemudian, aku mulai merapikan kotak berisi barang-barang sekolah. tanpa sadar, mataku berkaca kaca. Tiga tahun berlalu, dan aku merasa telah bergerak jauh dari versi diriku yang dulu. Aku bukan lagi anak yang takut menjawab soal di depan kelas. Aku telah belajar menghadapi kegagalan, bangkit dari rasa malu, dan menemukan teman teman yang menguatkan beberapa minggu berselang, sekolah mengundang kami untuk reuni kecil sebelum kami terpisah ke jalan masing masing. Aku datang dengan langkah mantap. Di lapangan, banyak teman berkumpul sambil bercakap.
Sejak kecil, dunia sekolah selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup ku. pertama kali mengenal suasana pendidikan formal saat memasuki taman kanak kanak. Di sanalah aku mulai belajar berinteraksi dengan teman teman dan mengenal huruf, angka, serta berbagai permainan edukatif yang menumbuhkan rasa ingin tahunya. Meski masih belia, aku sudah menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Setiap pagi, aku selalu bangun lebih awal, menyiapkan seragam mungilnya, dan menunggu dengan antusias untuk diantar ke sekolah. Di TK, aku belajar menghafal lagu lagu sederhana, menggambar bebas, hingga belajar antri dan berbagi dengan teman. Guru guru di sana bukan hanya mengajarkan pelajaran dasar, tetapi juga menanamkan kedisiplinan serta sopan santun, sehingga aku tumbuh menjadi anak yang ceria dan ramah.
Masa SMA adalah masa yang penuh warna. Pelajaran semakin spesifik, lingkup pergaulan lebih luas, dan kehidupan sosial jauh lebih kompleks. Aku mulai memahami bahwa pendidikan tidak hanya soal nilai, tetapi juga bagaimana ia memahami dirinya dan merencanakan masa depan, di SMA, aku memilih jurusan yang sesuai minatnya. Ia semakin tekun belajar terutama pada mata pelajaran yang ia sukai. Selain itu, aku ikut dalam organisasi OSIS. Dari sana, aku belajar memimpin rapat, menyusun program, dan bekerja sama dengan berbagai pihak. Ia pernah menjadi panitia acara pensi sekolah, yang membuatnya harus bekerja keras mengatur jadwal, teknis acara, hingga menghubungi pengisi acara. Meski melelahkan, aku merasa bangga ketika acara itu berjalan lancar.
Dalam perjalanannya, aku pernah menjalin kedekatan dengan seorang teman sekelas. Mereka sering belajar bersama, saling memberi dukungan, dan menjadi tempat cerita satu sama lain. Namun, hubungan itu tidak bertahan lama. Mereka berpisah ketika kelas dua SMA. Temannya memilih menjalin hubungan dengan orang lain, sementara aku memutuskan untuk fokus pada pendidikannya. Meski berat, aku berusaha menerima kenyataan. Hal yang paling sulit baginya adalah tetap satu kelas dengan mantan temannya itu hampir setiap hari. aku belajar menahan diri, menjaga sikap, dan tetap profesional. Dari kejadian itu, aku mempelajari arti kedewasaan, keikhlasan, serta menerima bahwa orang memiliki jalan masing masing lambat laun, aku kembali memfokuskan diri pada sekolah. aku mulai mempersiapkan rencana kuliah, mencari informasi beasiswa, dan memperbaiki nilai. aku aktif mengikuti seminar kampus dan bertanya kepada guru tentang arah pendidikan yang tepat. Dukungan keluarga membuatnya semakin percaya diri menghadapi masa depan.
Kini, ketika menengok ke belakang, aku menyadari bahwa dunia persekolahan telah membentuk diriku menjadi pribadi yang lebih matang. Dari TK hingga SMA, aku belajar tentang disiplin, kerja keras, persahabatan, dan keikhlasan. aku memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang ujian, tetapi tentang pembentukan karakter. Semua suka duka itu menjadi pengalaman berharga yang akan terus aku bawa sepanjang hidupku.