KEMESRAAN TEORI, SEJARAH, DAN KRITIK SASTRA
KEMESRAAN TEORI, SEJARAH, DAN KRITIK SASTRA
Abdul Hafid, M.Pd.
(Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UNIMUDA Sorong)
Covid-19 dan kuliah daring seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan, dengan segala problematika, pandangan, bahkan keluh kesah. Tetapi apapun itu, nilai positif dari kuliah daring bagi saya adalah persentasi mahasiswa yang bertanya jauh lebih banyak dibandingkan dengan kuliah tatap muka. Tentu saja ini adalah berita yang menggembirakan karena ada kebebasan, tantangan, dan rasa ingin tahu yang menanjak. Kebetulan pada semester ini saya diberi amanah untuk mengampu mata kuliah sosiologi sastra, ada pertanyaan yang menarik dari mahasiswa apa konstribusi sosiologi sastra terhadap kritik sastra. Ya, tentu saja ini adalah pertanyaan yang menarik, tetapi saya tidak menyinggung tentang kritik sastra, karena kritik adalah bidang ilmu yang sensistif.
Jangankan kritik, kriteria informan/responden resepsi/tanggapan pembaca saja, menurut Iser (dalam Ratna 2013:171) pembaca yang dimaksud dalam resepsi sastra adalah pembaca yang memiliki kompetensi dan pembaca sebagai gudang pengalaman. Tentu saja, baru pada tataran ini saja, saya sudah bertanya apakah saya masuk di dalam kategori ini? Apalagi sebagai kritikus, kritikus harus memiliki tiga kompetensi utama (bagi saya sebagai syarat wajib) yakni harus menguasai teori dan sejarah sastra, sehingga antara kritik sastra, dengan teori sastra, adalah suatu kesatuan yang utuh, bedanya dengan strukturual ketiga cabang ilmu sastra (teori, sejarah, kritik) tidak bisa diklaim otonom, karena merupakan cabang ilmu yang berbeda.
Pandangan yang menarik tentang kemesraan (teori, sejarah, dan kritik) sastra adalah pendangan Kamil (2009) dan Wellek dan Warren (2014) ketiga ilmu sastra (teori, sejarah, kritik) tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Kritik sastra misalnya tidak akan mencapai sasaran apabila teori dan sejarah sastra tidak dijadikan landasan berpijak. Selanjutnya teori sastra tidak akan pernah otentik tanpa bantuan sejarah dan kritik sastra sepanjang zaman. Demikian juga dengan sejarah sastra tidak dapat dipaparkan dengan baik apabila teori dan kritik sastra tidak jelas.